Kurikulum Sekolah

Tuesday, August 15, 2006

Mengapa tidak semua anak belajar selama KBM?

Adalah realita sehari-hari terjadi di kelas, dimana ketika guru mengajar banyak siswa tidak belajar – ketika guru mengajar banyak siswa tidak menggunakan pikirannya. Tatkala guru mengajar, sebagian besar siswa tidak mampu mencapai kompetensi individual, baik kompetensi yang berkaitan dengan penambahan wawasan keilmuan maupun kompetensi tentang peningkatan keterampilan berpikir dan penumbuhan sikap ilmiah. Data studi kasus di beberapa sekolah suatu yayasan ternama di Jakarta menunjukkan bahwa 98 % guru mengatakan tidak semua siswa belajar selama Kegiatan Belajar Mengajar (KBM).
Dari jumlah itu, rata-rata hanya 60 % siswa belajar dan 40 % siswa tidak belajar. Di antara 60 % yang belajar itu, derajat belajarnya beragam yaitu 25 % pada kategori ‘mengulangi informasi’, 20 % pada kategori ‘memahami informasi’ (mampu memberikan contoh dan bukan contoh)’ dan hanya 15 % yang mampu mendemonstrasikan pemahamannya dan mampu menemukan strategi baru. Kalau batasan pencapaian kompetensi menurut kurikulum 2004 pada unjuk ‘performance’ (kinerja) maka siswa yang mencapai kompetensi pada kasus ini hanya 15 %. Artinya, sebagian besar siswa (85 %) belum mencapai kompetensi. Dengan bahasa awam dapat dikatakan, sebagian besar siswa tidak belajar selama guru mengajar. Mengapa ini terjadi? Apakah karena siswa-siswa kita tidak mampu belajar, tidak mampu berpikir, dan tidak mampu mencapai kompetensi individual?
Dari kajian medis dan psikologis, pada dasarnya siswa-siswa itu memiliki potensi untuk tahu, potensi untuk mencapai kompetensi individual. Permasalahannya lebih banyak akibat cara perlakuan yang kurang memberikan kesempatan untuk siswa belajar. Selama KBM, banyak siswa yang tidak mengalami peristiwa belajar (learning). Artinya, siswa tidak disediakan pengalaman belajar (learning experience) yang berdiversifikasi yang sesuai dengan keragaman karakteristik masing-masing individu. Keragaman karakteristik siswa ini meliputi keragaman dalam minat – bakat – kemampuan – kebutuhan. Selain itu, kurang maksimalnya penyediaan pengalaman belajar yang menyentuh pikiran, sehingga mampu menggelitik pikiran anak.
Jika ditelusuri terus, pangkal kesalahan ini ada pada dimensi input dan proses pendidikan yang meliputi tampilan buku pelajaran yang cenderung ‘menuangi informasi’, cara guru mengajar dengan pola indoktrinasi, system penilaian yang hanya dalam bentuk ‘selected response test’, keterbatasan sarana pendidikan yang edukatif, kebiasaan mengorganisasi kelas dengan ‘gaya birokrat’, dan termasuk bentuk perlakuan orang tua di rumah yang cendrung otoriter. Semua bentuk perlakuan itu cenderung hanya mendudukkan siswa sebagai ‘konsumen’ gagasan dari pada ‘produsen’ gagasan. Cara-cara ini hanya melatih berpikir tingkat rendah, yaitu melatih kemampuan mengulangi informasi.
Mengamati beberapa buku pelajaran yang saat ini beredar diketahui bahwa, lazimnya kemasan materi keilmuan dalam buku pelajaran cenderung disajikan dengan cara penuangan informasi melalui pola definisi dan rangkuman instant, kegiatan disajikan dengan pola resep, dan soal latihan lebih banyak hanya menanyakan informasi yang sudah disajikan. Meruahnya peredaran LKS (Lembar Kegiatan Siswa) menambah parah situasi ini. Muatan LKS yang beredar itu tidak lain berupa kumpulan soal-soal, yang sebagian isinya banyak menekankan pada dimensi recall (ingatan). Juga, perlakuan orang tua dan guru cenderung menerapkan gaya indoktrinasi militer yang kurang membuka peluang anak untuk urun gagasan, berdiskusi, dan mengungkapkan gagasan secara demokratis.
Untuk mengatasi permasalahan itu. Kita semua (guru, Kepala sekolah, Orang tua) yang berada di sekitar anak perlu melakukan perubahan pola pikir dan pola tindakan tentang cara memperlakukan anak, dari yang selama ini hanya berada pada peran ‘pengarah dan pemberitahu’ perlu menggeser secara bertahap ke peran ‘penasehat, pembantu dan mitra’ anak dalam kegiatan pembelajaran. Semua sumber belajar yang digunakan anak perlu diracik kembali dan disajikan sedemikian rupa sehingga memberi peluang anak untuk senantiasa menggunakan omputer pribadinya (pikirannya) yang memang sudah dianugrahkan Allah pada setiap anak. Insya Allah, kalau ini dilakukan maka anak-anak kita sebagai generasi bangsa akan menjadi ilmuwan cilik yang kreatif sekaligus juga jujur (Mei 2006)

Pertanyaan tentang ceramah dan tulisan ini, dapat disampaikan ke;

Drs. S. Karim A. Karhami, MA
Kepala Bidang Kurikulum Teknologi Infomatika dan komunikasi Pusat Kurikulum Depdiknas
Jl. Gunung Sahari Raya No. 4
Senen – Jakarta Pusat – Tilp: (K) 021-3804248 ext 265/266 ®: 021-8463662
HP: 0818172066

0 Comments:

Post a Comment

<< Home